Tampilkan postingan dengan label Me and My Children. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me and My Children. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 November 2015

Tentang Khairu

"Khairu nggak bawa jas hujan?"

"Nggak, Bu."

"Yaudah. Pakai jas hujan bu V aja."

"Ibu guru nggak papa ujan-ujanan?"

Deuuuuh. So swit bingit ni anak.
Sekalian aja digodain

"Yaudah, kita pakai jas hujan berdua aja, ya?" Wkwkwkwk muka polosnya bikin tambah ketawa.

*Khairu
Outing Class 1
Godong Ijo Depok

25112015

"Bu guru kok lama." Salamnya yang lagi nunggu.

"Kenapa? Khairu nungguin, ya?"

"Iya, aku nungguin dari tadi."

"Iya, maaf, ya."

*Khairu nyambut bu guru tiap dateng ke sekolah

Turun dari motor anak-anak dah nyamperin. Seperti biasa Khairu nggak ketinggalan. Nungguin aja nggak ke kelas duluan.

"Kenapa, Khai?"

"Tasnya aku bawain aja, Bu."

"Duuuh baik banget anak bu guru. Tapi berat, Nak. Udah, bu guru aja."

"Nggak papa. Aku bisa, kok."

*Akhirnya kita gotong tas bareng-bareng. Wkwkwk

Pas bilang sama emaknya ternyata tuh anak emang romantis gtu. Wkwkwkwk.

Jadi inget, awal masuk sekolah tuh anak suka tidur di kelas. Nggak mau disuruh nulis. Bilangnya males, capek, ngantuk. Tulisannya gede-gede. Sekarang, masya Allah ... jadi hiburan banget. Liat muka polosnya, sikapnya, tutur katanya. Dasar anak2 ... Sekarang tulisannya rapi. Nangkep pelajarannya juga lumayan ... tapi polosnya tetep nggak bisa ilang.

Kenang-kenangan waktu ngobrol sama bundanya.

Senin, 08 September 2014

Bukan Salahmu, Nak

Aku diam. Tiba-tiba saja air mataku mengalir. Kutatap wajah anak-anak. Suara riuh di kelas berangsur hilang. Berganti hening dan sikap merasa bersalah mereka. Mungkin mereka pikir aku menangis karena mereka. Padahal 

Senin, 25 November 2013

Sudah Nikah?

"Bu Guru udah nikah belom?"

Aku nyengir, "Kenapa?"

"Nggak papa" mesem-mesem.

Yang lain nyeletuk, "Mudah2an Bu Fita segera nikah trus punya anak"

Spontan kujawab, "Aaamiiiiin"
"Kamu tahu nggak? waktu hujan itu malaikat banyak yang turun, ayo doa yg banyak!"

Anak laki-laki nyeletuk, "Mudah-mudahan nanti pulangnya jam 12"

Aku nyengir, "Bukaaan. Doain biar Bu guru cepet nikah"

Tiba2 bersahut-sahutan penghuni kelas,
"Mudah-mudahan Bu Fita cepet nikah trus punya anak"
" Mudah-mudahan anaknya nggak pernah ninggalin sholat"
"Rajin belajar"
"Normal" hihi maksudnya normal ngelahirin kali.

Semangat n berulang-ulang aku jawab, "Aaamiiin. Aamiiin. Aaamiin" mesem2 nggak berhenti. Menyusul dengan doa-doa yg lain ^^

Rabb ... ada satu waktu dimana kata-kata menjadi nyata. Semoga doa-doa mereka bertepatan dengan waktu yang Engkau ijabah.

Coloteh pagi dari para jundi kecil tanpa dosa :)

Gedung Ilmu, 10:04 WIB
Selasa, 26 Nopember 2013 M
23 Muharram 1435 H

Senin, 18 Maret 2013

Saat Mereka Menangis

Aku menangis lagi.
Tangisan yang sama oleh orang yang sama.

I know who i am...
Biar kuhabiskan malam ini semua.
Walaupun pada kenyataannya, ia selalu menciptakan airmata baru.

Air mata.
Tak hanya terjadi denganku tentunya. Jika aku bisa merasakannya sendiri, memendamnya sendiri, dan meyembunyikannya dari siapapun, (kecuali pada bantal dan keyboard yang selalu menjadi saksi bisu) tapi, tidak dengan anak-anak.

Tertawa, marah, menangis adalah hal yang lumrah bagi mereka. Mereka bebas meluapkannya di manapun, kapanpun dan dengan ekspresi apapun. Bebas. Tak ada takut, malu atau beban.

Seperti keluhan putraku pagi ini. Di tengah pelajaran, di saat mengerjakan tugas yang kuberikan, tiba-tiba Ridho terisak. Mengadukan sesuatu yang menyentuh hatinya, sehingga matanya turut mengeluarkan air mata.

Bagiku itu hal yang sepele, hanya karena diejek, disentil, atau pensilnya diambil. Tapi mungkin hatinya tersakiti. Sebagaimana aku yang selalu tersakiti karena hal-hal remeh.

Bedanya, tangisan mereka adalah murni lahir dari hati yang bersih, polos dan belum tersentuh polusi apapun. Sedangkan bagi si dewasa, menangis karena hal sepele adalah cengeng, tak mampu berhusnudzhon dan tak mampu mengendalikan hati.

Aku tersenyum melihat Ridho asik menangis. Dia membela diri dan menyalahkan temannya.Kudengarkan keluhannya. Suaranya bercampur dengan air mata. Kuabadikan moment itu dengan kamera hp. Iseng mungkin, tapi aku ingin dia mengoreksi dirinya sendiri ketika menangis.

Setelah kujepret, hasilnya kutunjukkan ke Ridho. Dia berhenti menangis. Malu melihat sekilas foto wajahnya. Namun sesaat kemudian dia melanjutkan tangisannya... Aku makin nggak kuat ingin tertawa. Tapi kutahan. Segera kupanggil yang bersangkutan. Menyuruh mereka saling bersalaman dan bermaafan.

Dan setelah itu, mereka kembali tertawa kemudian belajar dan bermain lagi.

Begitulah anak-anak. Tak ada dengki apalagi dendam. Mereka tulus memaafkan tanpa menengok ke belakang. Menangis hanya sebuah ekspresi nalurinya bahwa sesuatu yang ada dalam dirinya tersakiti... :)

Menangis dan air mata.
Menangislah jika ingin menangis...
luapkan semuanya...
Sebagaimana anak-anak yang tanpa segan mengeluarkan air matanya...
Namun setelah itu...
hilangkan semua duka.
Meskipun tak semudah mereka
melupakan semuanya...

Allah... Engkau tak pernah membiarkan aku sendirian, bukan?

Innamaa asykuu batstsii wa huznii ilallah... :')

Ini foto Ridho dengan sedikit editan.
Bersama mereka, mendungku sedikit cerah...

Gedung Ilmu 13:18 WIB
Senin, 18 Maret 2013 H
6 Jumadil Ula 1434 H

Rabu, 16 Januari 2013

Aku Dengar, Bunda



“Ayo, Ayu sholat” Aku membujuk Ayu yang sedang asik duduk menyendiri di bangkunya. Dia hanya mengeleng. Seperti biasa ia menunduk, sebisa mungkin agar tidak kontak mata denganku. 

“Ayo, Ayu... teman-temannya sudah sholat tuh. Masa Ayu nggak sholat terus setiap hari. Kalau nggak sholat masuk neraka, lho. Emang Ayu mau masuk neraka?” lagi-lagi aku ceramah yang seharusnya tak perlu. Aku yakin anak sepertinya tidak mempedulikan kalimat sepanjang itu. Ia menggeleng sekali lagi.

“Tadi bilang nakal. Pegang tangan keras” Ayu berusaha menjelaskan dengan suaranya khas anak berusia 5 tahun. Ayu berusia 7 tahun. Namun untuk berbicara kita perlu mencernanya lebih dalam. 

“Apa? Siapa yang bilang nakal? Pegang tangan keras? Siapa?” Aku mencoba memperjelas ucapannya. 

“Bu Guru.”

“Bu Guru? Kapan?” anganku mulai menerawang. Kejadian tadi pagi terputar ulang. Pagi ini Ayu tak mau belajar di kelas. Dia selalu keluar kelas pada jam pelajaran. Berlarian dan berputar-putar di lapangan. Biasanya kubiarkan dia seperti itu. Nanti setelah lelah dia pasti balik ke kelas dengan sendirinya.  Aku tahu betul Ayu tidak bisa dipaksa. Semakin kita keras dia akan semakin menjadi. Namun pagi ini aku benar-benar kesal.

“Ayu kenapa sih kok nggak nurut sama bu guru? Biasanya Ayu pinter.” Aku mencoba berkomunikasi. Berharap aku menemukan solusi dari yang ia ceritakan.  Nihil. Ia tetap berusaha keluar kelas, menutup telinga dan menghindari kontak mata. Aku nyerah. Kubiarkan ia bermain dengan dunianya. Semoga nanti moodnya berubah bagus sehingga aku bisa mencuri-curi untuk menyelipkan ilmu. Harapku.

Sampai jam istirahat berlalu Ayu tetap dengan dunianya. Aku bujuk membaca buku cerita, hanya bertahan 5 menit. Setelahnya dia menari-nari lagi. Biasanya ia mampu duduk manis selama satu jam lebih untuk membaca. Dan kemampuannya membaca lancar adalah anugerah tiada terkira untukku. Mengingat dirinya sama sekali tak mau belajar membaca, apalagi menulis.

Dan detik itu dimana teman-temannya sedang khusyuk menyimak pelajaran. Dimana dia menari-nari di depanku. Aku langsung bilang “Ayu, bu guru bisa marah lho. Ayu kalau begini terus nanti bu guru marah. Ayu kenapa sih? Kok dari kemarin nggak nurut?” aku benar-benar kesal. Sejak 4 hari lalu Ayu tak bisa dikendalikan. Ayu mengambil bolanya. Dia berjalan menuju pintu. Bermain lagi dengan dunianya. Sergap aku tutup pintu. Dia berusaha keras membuka. Kupegang pergelangan tangannya. Pintu tertutup rapat. Ia tiduran dibalik pintu mencari celah bagaimana agar pintu terbuka. Putus asa, dia memejamkan mata. Badannya diam berusaha tidur, seperti biasa.

“Ayu kenapa sih? Kok jadi nakal” matanya tertutup, sepertinya sama sekali ia tak mau mendengar. Kubiarkan dia, menunggu moodnya pulih kembali.

Dan ketika statementnya keluar. Sedikit tapi sangat berarti. Naluriku terketuk. Pikiranku terbuka. Tadi bilang nakal. Pegang tangan keras. Aku mengatakan kata “nakal” tanpa berdosa. meluncurkan panah kata tanpa pernah berpikir akibatnya. Aku telah menyakitinya. Cengkraman tanganku yang kuanggap biasa, menjadi cengkraman maut yang mematikan moodnya. Dia merekamnya dengan sangat kuat. Dia begitu sensitif. Dia layaknya anak lainnya, adalah kertas putih. Polos dan apa adanya. Sekali kita meremasnya, akan tetap tersisa kusutnya. 

Aku sontak memeluknya. “Iya... maaf ya. Bu guru minta maaf” aku menyodorkan tanganku. Dia mengambil tanganku dan menciumnya. Dia tersenyum. Subhanallah, begitu berartinya setiap ucapan kita. Begitu bermaknanya gerak-gerik kita. Sekecil apapun menjadi motivasi atau boomerang bagi mereka. Pantas saja oarang-orang shalih terdahulu berpesan, ucapan itu adalah doa. Ucapkanlah yang baik-baik meski dalam keadaan marah sekali pun.

 Jadi teringat guruku bilang, “kalau marah sama anak bilang aja begini ‘ gue sumpahin lu jadi anak pinter’.” Kontan waktu mendengarnya aku tertawa. Benar-benar lucu tapi benar. sungguh bermakna. Karena ucapan seorang ibu kepada anaknya adalah doa yang akan terijabah tanpa penghalang.

“Sekarang... Ayu sholat yuk!” aku menuntun tangannya. Dia segera mengambil mukenanya di loker. Bergegas sholat dzhuhur menyusul teman-temannya. Namun tetap saja berakhir tubuhnya di lantai. Ia tertidur ketika sujud.

 Huft, bagaimanapun setidaknya lukanya telah terhapus. Tergantikan dengan senyuman yang ia bawa dalam mimpinya. Biarlah. Biar Allah yang yang akan menumbuhkan intelektualitasnya di waktu yang tepat. Karena kita sebagai orang tua, adalah berikhtiar dan berdoa. Karena aku yakin, Ayu mempunyai keistimewaan sendiri. Entah itu apa dan kapan akan terungkap. Terbukti  ia sekarang mampu membaca lancar di tengah kemalasannya belajar membaca dan menulis.

Bunda... betapa ucapan seorang ibu adalah doa. Betapa ucapan kita adalah mesin yang mampu melecut semangatnya. Bahkan sebaliknya. Menjadi panah pembunuh kreatifitasnya. Mereka mendengarnya Bunda... mereka merekamnya. Sekalipun mereka tidak mengutarakannya. Betapa ucapan kita menjadi lentera setiap langkahnya. Bunda... ucapkanlah yang baik-baik.  Meski dalam keadaan marah sekali pun. Diam lebih utama Bunda... ketimbang mereka mendengar kita  berucap kasar bahkan menghardiknya.

Ayu adalah salah satu dari sekian anakku yang mengajarkan banyak hal. Karena mereka bukan sekadar murid. Justru merekalah guruku. Guru yang mengajarkan apapun lewat tingkah dan ucapan polosnya. Terimakasih Rabb... telah membekaliku menjadi seorang ibu. 

V
Jannaty, 11:59 WIB
Selasa, 16 Januari 2013 M
 3 Rabiul Awal 1433 H


Rabu, 21 Maret 2012

Untukmu, Bung!


Jadi wanita itu harus tegar.
Nggak boleh cengeng n gak boleh lembek.
Orang bisa seenaknya manfaatin keluguan n kepolosan kita.
Kita bukan tong sampah, bung. Yang bisa kamu pakai sesuka hatimu.
Kami punya hati. Dan bukan untuk disakiti.
Kami memang lemah tapi kami tidak bodoh.
Apa semua jenismu sebegitu menjijikkan?
Menyakiti dan mempermainkan?
Jika tak bisa kami hormati.
Tanpa sungkan kami jadikan alas kaki.
Sebagaimana sampah yang kau lempar depan muka kami.
Busuk.

Bayty, 22:58 WIB
08 Nopember 2011 M
12 Dzul Hijjah 1432 H

Selasa, 18 Oktober 2011

Surat Cinta Majnun


Bogor, 1 qabla ‘Ied Adha
Di bumi cinta-Nya
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Atas nama cinta-Nya…
Jangan terlalu berlebihan menilai hamba yang penuh dengan kedhoifan dan sarat kenistaan. Dek Kiki eh Kiky yach? Atas nama cinta-Nya aku ucapkan terima kasih atas kesediaan untuk menulis surat & memberikan penilaiannya. Tapi tak layak bagi kita mendapatkan sanjungan dan pujian. Karena keduanya adalah milik-Nya semata.

Terimakasih atas doanya, mudah-mudahan kita selalu mendapatkan rahmat dan cinta-Nya. Dunia, akhirat. Amien. Dek Kiky saya tidak memiliki pengalaman yang serius dan prestasi yang prestisius dalam tulis menulis. Saya hanya ingin mencinta-Nya walau hanya dengan bait-bait syair, saya hanya ingin merindu-Nya walau hanya dengan menyebut-Nya dalam goresan tinta. Prestasi bagiku tak ada apa-apanya bahkan dunia dan seisinya tak kuinginkan walaupun kubutuhkan. Tapi itu semua tak menjadi penghalang dalam berjihad mencari cinta-Nya.


Soal “bibir yang terkatup membiru (lesu membiru)” itu adalah metafora bagi suatu keadaan hamba yang memasuki ranah “tajalli dan takhalli” untuk istilah ini cari sendiri yach, biar kreatif gitchu. Kemudian “dahaga sebagai Qais” ialah dahaga cinta yang tak mengenal apapun juga selain cinta-Nya. Ingat bukan kisah cinta Qais dan Laila.

Dek Kiky, maaf saya belum mempunyai isteri atau anak. Tega-teganya dek Kiky memvonis seperti itu, tapi tak apa-apa saya juga mengerti sebenarnya itu hanya bahasa pertanyaan yang diselimuti rasa malu sebagai perempuan. Basa basi khan?.

May Allah Bless you.
Hasyim Isra



Surat balasan yang membuatku berdecak kagum. Bukan saja bahasa penanya yang lembut tapi juga ketawadhuan dan pancaran ilmu pada tiap kata yang digoreskannya. Tak terhitung berapa kali aku membacanya. Seperti menemukan sosok ‘Fahri’ dalam novel ‘Ayat-Ayat Cinta’ nya Kang Abik.
Sebut saja Hasyim. Lelaki yang kukenal melalui puisinya yang dimuat pada salah satu majalah muslimah. Mulanya aku hanya menanyakan makna bahasa puisinya yang sulit kupahami. Dan bahasa pena dalam surat balasannya benar-benar menyihirku untuk mengenalnya lebih jauh.

***

Ass. Af1 ganggu. Miss……….iii
Misssiii… mau denger NSPnya boleh? G brlbihan kan klo q mnyimpulkan itu kprbdian orgny. Btw swra sndri y? ^^

Seperti biasa aku memulai sms terlebih dahulu. Untuk menanyakan hal-hal seputar agama atau sekedar mengirim kata-kata bijak.

Ass. Please. Everything from us its from HIM, you are also from HIM and for HIM. NSPnya by Muammar ko. Kebagusan atuh kalo suaraq?!

Aku memisscallnya beberapa kali sekedar mendengar nada dering ayat yang dilantunkan dengan indah oleh Muammar ZA, Sang Qori Nasional.

“Halo”. Suara disebrang telepon. Yaaaah kok diangkat. ‘ Klik’ langsung aku putuskan.

Ass. Af1 td tmenku yg ngangkat. Kataq jgn, but dia penasaran, coz  kukasih nama di contac “huurul ‘iin”. Sry kalo g setuju.

Ha?? Huurul ‘iin? Bidadari yang bermata indah. Subhanallah amat sangat membuatq tersanjung dan mesem-mesem tak berhenti.

Ass. Terlalu berlebihan dan sngat brlbihan menyebutku huur… everything from us its 4 him. Thx dah mw dgnggu.

Wass. Mgkin qt ditakdirkan untuk saling melebih-lebihkan. Btw its no problem.
***
Lagi-lagi kubaca salah satu puisi Hasyim yang dimuat disebuah majalah. Dan kubaca pula surat balasan yang kedua. Ribuan kalipun rasanya aku tak akan pernah bosan.

السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Semoga silaturahim ini bukan sekedar permainan kata
Semoga silaturahim ini akan lebih bermakna
Semoga silaturahim ini jauh dari murka-Nya
Semoga silaturahim ini lebih mendekatkan kita pada-Nya
Semoga silaturahim ini……………….Ya Rabb
Segala kebaikan kami mohon dari-Mu
Semoga… Ya Rabb. Amien…

بسمه أبتدأ و أنتهى
Dek Ky yang dirahmati-Nya. Amien…
Selaksa maaf, karena baru sekarang saya bisa membalas surat yang kedua. Salam sejahtera kakak sampaikan, sebagai bayar hutang atas salam Dek Ky yang dititipkan lewat Ihat.


Dek Kiky…
Mencintai-Nya tidak harus menafikan cinta kepada selain-Nya. Nabi Muhammad SAW adalah sufi agung dan tidak ada seorang sufi manapun yang mampu menandingi maqam beliau disisi-Nya. Akan tetapi kita tahu beliau berkeluarga, beliau pandai berbisnis, beternak, berpolitik dll. Jadi jangan sampai kita dengan dalih mementingkan muamalah ma’allah meninggalkan muamalah ma’annaas. Jadi intinya kakak sangat kagum dengan mujahadah dek Kiky yang begitu menyala-nyala. Sekali lagi baaru sekarang kakak menemukan sosok Rabiah El Adawiyah diabad modern ini. Kakak begitu kagum dengan Rabiah El Adawiyah karena cinta kepada-Nya begitu mempesona. Mudah-mudahan dek Kiky menjadi penerusnya. Amien…

Yaghlii fidzhihnii...

Dek Kiky…
Sebenarnya tidak ada rahasia khusus biar puisinya bagus and menyentuh (versi dek Kiky, nggak tahu versi yang lain) jelek and menyeruduk kali… hehe…


Penjiwaan dan penghayatan memang diperlukan, bahasa yang tinggi juga perlu biar tinggi banget Dek Kiky bikin puisinya diatas awan aza hehe… sorry. sebenarnya bahasa tidak terlalu berperan, banyak puisi yang bahasanya ringan dan semua orang pun mafhum bin paham, tapi maknanya begitu mendalam, biasanya puisi seperti ini beraliran epik dn satirik. Untuk sementara kakak memang menggeluti dan berkelahi dengan aliran hymne dan ode. Namanya juga amatiran. So, yang pasti banyak baca puisi karya orang-orang terkenal sampai orang-orang ang tidak dikenal (contohnya; k) he..he…



Dek Kiky…
Kakak tidak begitu paham dengan arti mencintai-Nya. Jadi jangan terlalu disematkan bahwa kakak melebihi dek Kiky. Kita sama, tak berbeda, kita sama-sama berusaha dan berjuang menggapai cinta-Nya.



لا فضل بيني و بينك

Insya Allah kita akan berusaha memahami arti cinta yang sebenarnya. Seprti cinta para rasul-Nya, para auliya-Nya, para pencinta-Nya. Cinta-Nya ibarat samudera yang luas, sedangkan hambaa sendiri mengarungi samudera asmara-Nya sebagai nahkoda dalam bahtera kefanaan. Hamba berteman angin dan bintang-bintang. Hamba berlayar sendiri.

Ya Rabb…
Aku bukan manusia suci
Yang mencinta-Mu tanpa berbagi
Ya Rabb…
Ku merindu-Mu
Bagai seruling merindu
Di pepasiran mendebu
Ya Rabb…
Aku ingin mencinta
Dengan segala
Biar mereka berkata;
“ Kau ini gila!”
Oh…sungguh indah cinta yang menggila.
(Dari pencinta, Dari Perindu)
Aku Bukan Manusia Suci
Yang Mencinta-Nya Tanpa Berbagi


~Hasyim Isra ~



Ya Allah… surat ini membuatku semakin mengaguminya. Aku benar-benar tergila-gila pada orang gila. Gila akan cinta kepada-Mu. Maaf Rabb… maaf atas kekotoran hati ini. Maaf atas ketidakmampuanku mengendalikan hati. Jika ia jodohku dekatkan dengan cara-Mu. Namun jika bukan mohon beri petunjuk hati ini agar tidak berlarut. Engkau Maha Tahu apa yang tidak kuketahui. Tawakkaltu.
***
Hapeku berdering. Sms masuk.

Ass. Ukhti blh gak klw sy ingin lbh tau banyak tntg ukhti? Af1 klw kurang sopan. Wass.

Aku kaget. Antara gembira dan harap-harap cemas menafsirkan sendiri makna sms itu. Semoga pucuk dicinta ulampun tiba. Tapi aku segera menetralisir hati.

Ma’dzirotan ya akhi. Maksudnya apa? Kalo niatnya baik insya Allah… its no problem.

Maf sy kira lbih baik saya bicarakan lwt surat aja yah? Gak pa2 kan?.

Gpp..melalui surat semuny lbh jelas n lbih rinci kali y? I’ll wait ur letter.

Be patient please. May Allah Bless Us.
Jujur hatiku berbunga-bunga. Dia bagai embun pelepas dahaga. Seseorang yang menempati posisi lebih dari teman menurut hatiku. Sosok “ Fahri” Ayat-Ayat Cinta dimataku. Yang santun, lembut, cerdas juga mahir berbahasa Arab dan Inggris. Komunikasi kami hanya via surat dan sms. Itupun jarang. Jangankan bertemu, telepon saja kami tak pernah.
***
Hari berganti bulan. Tak ada kabar apapun dari Hasyim. Nomor hapenya tidak aktif. Aku mencoba menghubungi temannya. Hapenya dijual katanya. Its no problem.

Bulan berbilang, suratku yang ketiga tak kunjung dibalas. Setidaknya jika memang ada kekonyolanku dalam surat itu, taka pa ia acuhkan. Tapi untuk pertanyaanku seputar ilmu, mohon dijawab.

Aku tenggelam dalam rasaku sendiri. Gelisah, gundah, sedih, berharap dan kecewa. Laksana Laila bagi Qais. Laa taj’alnii Laila. Jangan jadikan aku Laila. Menjadi majnun karenamu. Ya Rabb… maaf aku terombang ambing dalam kebodohanku sendiri tanpa mampu berbuat apapun. Aku masih punya malu Rabb. Apa mungkin aku harus mengemis kasih terhadap orang yang sama sekali tak tahu keadaanku ini. Maaf Rabb… kenapa ia harus membawaku terbang lalu tiba-tiba menjatuhkannya? Sakit. Apa yang kamu lakukan wahai Hasyim?. Tahukah kamu aku tercabik-cabik disini. Menjadi pujangga seketika. Menuliskan berbait puisi dan surat tanpa pernah berani mengirimkannya. Tiap detik hatiku hanya memanggil namamu. Aku bertahan untuk menunggu balasanmu.

Tuhan… mari berbincang
Kutanya tentangku nanti juga sekarang
Apakah sebab adakah jawab
***
Setahun berlalu.

Buat yang masih bertahan nencintai seseorang yang sudah pergi.
“ Hal menyedihkan dlam hidup ialah bila kau bertemu seseorang lalu jatuh cinta, hanya kemudian pada akhirnya menyadari bahwa dia bukanlah jodohmu & kau telah menyia-nyiakan bertahun-tahun untuk seseorang yang tidak layak. Kalau sekarang pun dia sudah tak layak, 10 tahun dari sekarang pun dia juga tak akan layak. Biarkan dia pergi… lupakan! ”

Maaf Rabb...
Aku tersentak. Menangis.
Buat yang patah hati.
“ Sakit patah hati bertahan selama kau menginginkannya & akan mengiris luka sedalam kau membiarkannya. Tantangannya bukanlah bisa mengatasi melainkan apa yang bisa diambil sebagai pelajaran & hikmahnya.”

Kata-kata Burhan Sodiq dalam bukunya ‘ Ya Allah Aku Jatuh Cinta’ membuatku merenung. Terisak menyadari apa yang semestinya aku lakukan. Duhai Rabb… syukurku… terimakasih telah menjawab semua pertanyaan dan resahku melalui buku ini. Kubaca lagi,

“ Cinta ibarat kupu-kupu. Makin kau kejar, makin ia menghindar. Tapi bila kau biarkan ia terbang. Ia akan menghampirimu disaat kau tak menduganya. Cinta bisa membahagiakanmu tapi sering pula ia menyakiti, tapi cinta itu hanya istimewa apabila kau berikan pada seseorang yang layak menerimanya. Jadi tenang-tenang saja, jangan terburu-buru & pilihlah yang terbaik.”

Aku mengangguk dalam diam.

Buat yang tipe playboy / playgirl.
“ Jangan katakan ‘aku cinta padamu’ bila kau tidak benar-benar peduli. Jangan bicarakan soal-soal perasaan bila itu tidak benar-benar ada. Jangan kau sentuh hidup seseorang bila kau berniat mematahkan hati. Jangan menatap kedalam mata bila apa yang kau kerjakan cuma berbohong. Hal terkejam yang bias dilakukan ialah membuat seseorang jatuh cinta, padahal kau tak berniat sama sekali tuk menerimanya saat ia terjatuh.”

Air mataku kembali menetes.

Hasyim…
Terimaksih untuk pelajaran berharganya..
Terimakasih telah membuatku kuat dalam rapuh
Terimakasih telah mengajariku arti memahami
Terimakasih telah mengasah ketegaranku..
Terimakasih untuk semua..
Tarbiyah yang penuh perjuangan namun berbuah berjuta kenikmatan. Insya Allah.

Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi Allah memberi apa yang kita butuhkan. Walau kadang sedih, kecewa dan terluka, tapi jauh dibelakang itu Dia sedang menyiapkan yang terindah untuk kita.

“Dan Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” Q.S. Ath-Thalaq : 2.

Innallaaha ma'anaa
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yan keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji ( pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” Q.S. An- Nuur : 26.
Tawakkaltu ‘alallah.

al faqiiroh wal haqiiroh
DMS
( Syauqy Al Adawiyah )
gambar: google

Minggu, 16 Oktober 2011

Tertawan Bayang


Begitu kuat mengikat
Seakan tak pernah berkarat
Wahai yang disayang
Pernahkah merasa terbuang?
Karena dirimu yang tak pernah hengkang
Menawan bayang
Menyekat isak
Kau begitu memesona
Selalu penuh pesona
Hanya perlu tahu, sangat menyemburu
Harus kutinggalkan
Sebelum semakin tenggelam