Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta untuk Ananda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta untuk Ananda. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 November 2015

Kunci Sukses

Halo, anak kebanggaan Bunda ...

Sayang, Bunda mau cerita. Tadi, waktu Bunda ke counter instal ulang HP, Bunda ketemu sama bapak-bapak parlente. Dari gaya bicara dan pakaiannya, Bunda bisa tebak kalau si bapak orang jempolan.

Beliau banyak tanya-tanya atau sedikit diskusi tentang islam, kemanusiaan, dan lain-lain. Bahkan, bercandaannya menjurus ke arah vulgar. Bunda nggak banyak bicara, karena pertanyaannya kadang membuat bunda bingung. Bunda cuma senyum dan ngangguk-ngangguk dari pada salah jawab. Orangnya apa adanya, vulgar, dia bilang, dia nggak munafik. Ternyata, dia muallaf.

Ada banyak hal yang membuat Bunda takjub. Salah satunya adalah ketika dia bilang, "Jadi cewek itu nggak harus cantik. Yang penting pinter." Bunda masih nggak ngerti apa yang dia maksud. Kemudian dia bilang, "Cewek cantik berapa, sih, paling mahal? 20 juta. Saya udah pernah. Maaf-maaf aja ya, saya nggak munafik. Tapi, kalo cewek pinter, itu yang dicari orang." Dia nggak cerita sama Bunda, Nak ... Tapi, sama tukang counter. Tapi, secara nggak langsung Bunda juga diajak ngobrol ... Trus, dia bilang begini lagi, "Kalau mau sukses, kuncinya itu ada di orang tua. Saya itu pernah nggak naik kelas 1. Tapi, kalo orangtua marah saya kekepin aja. Gak papa dah gue dimarahin. Yang penting gue dapet duit." Gitu katanya. "Bayangin, waktu saya di Sinapura, emak saya nelpon minta srikaya. Langsung saya terbang dari Singapura ke Solo." "Trus bapak dapetin srikayanya di mana?" "Di Solo. Coba, kalo nggak punya pesawat pribadi? Bisa lama." Bunda nggak ngerti dengan kalimat terakhir. Dan bunda nggak mau nanya.

Dear, Sayang ....
Ternyata, bener banget. Bunda perhatiin, orang2 yang sukses itu orang yang bener2 gemati sama orang tua. Inget orang tuanya di mana pun berada. Nurut. Nggak pernah ngebantah. Nyenengin hati orang tuanya. Bunda juga yakin, orang2 yang hidupnya adem ayem, lancar, mujur ... pastiii mereka taat banget sama ortunya.
Bunda jadi inget satu hal. Kenapa Bunda bisa ada di situasi seperti sekarang ...
Sudahlah ... Yang jelas, ikut dan nurut aja apa kemauan ortu, ya ...

Kamu juga bakti kan sama Panda and Bunda?
Letakkan ortu di urutan pertama setelah Allah dan Rosulnya, Nak ...
InsyaAllah hidupmu berkah ...

Giant Hypermall Bekasi
@arina izzataka

20112015

Akhir Zaman

Aku baru saja mendapati hal yang membuatku tersentak mengelus dada. Resah, gelisah, kecewa, sedih, marah. Campur aduk. Entah, zaman macam apa ini.

Sebelumnya, memang aku tahu hal ini dari sosial media. Hal-hal yang membuatku bergidik ngeri dan jijik. Tapi, kali ini aku mengetahuinya lewat pengakuannya sendiri. Zaman macam apa ini?

Apa akhir zaman yang Nabi sebutkan sudah sebegitu dekat ini? Mengapa hal-hal gila dilakukan oleh orang yang benar-benar waras? Apa pakaian, ilmu, atau slogan-slogan yang mereka tampakkan hanya sebagai tameng perbuatan-perbuatan kotor mereka (atau aku)?

Lantas apa aku berhak merasa jijik tapi aku lupa bahwa diriku juga begitu menjijikkan? Allah Karim ... Zaman macam apa ini? Apa hal-hal seperti ini begitu lumrah di dunia ini? Apa aku yang katrok dan norak? Allahumma .... Zaman macam apa ini? Sebegitu beratkah aku menjaga anak-anakku nanti? Ngeri.

Jaga Rabb. Jaga kami yang berlindung di bawah naungan-Mu. Di balik pakaian syariat-Mu. Jaga kami yang masih mengais hidayah, berlindung dari kembali kepada kesesatan kami. Jaga anak keturunan kami ...

Jaga dia, Rabb ... Jangan biarkan dia terjerumus ... Temukan ia dengan orang-orang baik ...

Dear, anak Bunda sayang ...
Bunda sedang bercerita tentang
Pertemuan, percakapan
dan bahaya laki-laki dan perempuan ...

Jaga dirimu, sayang ...
Jangan keluar selain bersama mahrom, hindari percakapan dan pertemuan dengan lawan jenis jika tidak penting ...

Bunda melihat zaman ini
Ngeri, Nak ...

17112015

Kamis, 05 November 2015

2. Cabe Cabean

Pagi, anak kebanggaan Bunda ...

Bunda ingin cerita pengalaman Bunda semalam. Saat Bunda membeli makanan untuk Mbah Putri, nenek kamu. Bunda bertemu dengan sekelompok cabe-cabean.

Cabe-cabean bukan cabe mainan yang dibentuk seperti cabe sungguhan, Sayang ... Tapi, menurut Bunda, itu adalah istilah untuk remaja yang kurang kasih sayang... Mencari perhatian di luar rumah dengan nongkrong-nongkrong atau perbuatan alay lainnya ... Hihi apa ya alay? Bingung, ya? Hmm ... Bunda nggak mau menyebutnya "norak" ... Tapi, kurang kasih sayang, Nak ...

Bunda taksir usianya 13 tahun. Duduk di bangku SMP. Mereka duduk bertiga sambil membawa ponsel. Memutar musik pop dengan volume lumayan keras dan bernyanyi bersama ... Bunda perhatikan pakaiannya, masih memakai training sekolah, baju dengan warna pudar, dan rambut terurai ... Entah, apa yang mereka pikirkan, mungkin mereka merasa keren dengan melakukan hal-hal itu ...

Bunda hanya berpikir, sedang apa orang tuanya di rumah? Apa sedang banting tulang mengais rezeki? Tidur nyenyak? Atau ...? Apa kelak Bunda juga akan membiarkan anak Bunda  tidak jelas melakukan apa di jalan ...?

Bunda paham sekali di usia itu mereka masih mencari jati diri, masih belum mengerti tentang tanggung jawab, hak kewajiban, mudhorot dan manfaat ... Bunda mengerti ...

Ketika kamu seusia mereka, Bunda pun tidak akan melarangmu bermain, Nak ... Bunda tidak mau merampas hakmu sebagai seorang anak ... Kamu memang perlu belajar dari banyak hal dan banyak pengalaman ...

Tapi, Sayang ... Tahukah kamu? Bunda mengandungmu dengan menahan kantuk tiap Bunda merasa sakit. Bunda melahirkanmu juga menahan kantuk khawatir engkau menangis. Bunda menahan kantuk ketika menjagamu sakit dari pagi hingga pagi. Dan, ketika kamu dewasa ... Bunda juga rela tidak tidur karena mengkhawatirkanmu yang berada di luar rumah ...

Tega kah kamu, Nak? Menghabiskan waktu dengan membuat Bundamu khawatir berkepanjangan?

Silakan bermain, Sayang ... Temui sahabat-sahabat terbaikmu yang menunjukkanmu pada kebaikan ... Tapi, dengan catatan ... Bunda harus tau dengan siapa kamu pergi, untuk apa, dan dengan waktu yang juga tidak larut ... Kabari Bunda jika ada apa-apa di jalan ...

Bunda tidak ingin kamu menjadi salah satu cabe di antara mereka ... Yang keluyuran tanpa tujuan, memegang gadget tanpa manfaat, dan ... tidak menutup aurat ...

Bermainlah ... Gunakan hakmu ... Tapi, tetap jadilah anak yang baik dengan sikap yang baik, Sayang ...

Bunda harap kamu mengerti ... Bunda menyayangimu ... Yanda Bunda selalu memperhatikanmu ...

Take care, anak kebanggaan Bunda ...

6 Nov 2015
Muharram 1438 H

Selasa, 03 November 2015

1. Mendidik Kamu Sebelum Hadirnya Ayahmu

Dear, Sayang ...

Ini kali pertama Bunda menulis surat untuk kamu. Kamu yang saat ini mungkin masih di alam azali. Kamu yang masih bernaung dalam sel-sel telur yang belum dibuahi. Bunda sudah merindukanmu sejak sekarang, Nak ...

Dear, my ovum ...

Saat ini November 2015, usia Bunda 26 tahun. Desember 2015 besok, Bunda sudah 27 tahun. Tapi, sejak lama Bunda sudah mendidikmu, Nak ... Kata orang, mendidik anak itu bukanlah ketika menikah atau ketika sudah melahirkan, tapi sejak masih remaja ... Jujur, Bunda memang belum tahu apa-apa tentangmu saat Bunda mengalami haid pertama. Tapi, sejak remaja ... Bunda sudah mendidikmu dengan akhlak yang baik. Bunda menjaga sholat 5 waktu, sholat sunnah, Bunda menjaga dari makan makanan yang haram, Bunda menjaga mata, Bunda membiasakan puasa sunnah, Bunda banyak membaca al quran, sholawat, dan hingga sekarang Bunda masih sering mengelus perut Bunda dengan sholawat ... Karena Bunda ingin kamu lahir dari rahim yang baik, tumbuh kembang dengan pribadi yang baik dengan kebiasaan Bunda yang baik ... Bunda yakin, kamu pasti mendengar setiap kali Bunda mengelus sambil bersholawat ... Bunda ingin kamu menjadi anak pengantar mahkota surga ... Pemberi syafaat untuk Ayah Bunda kelak ...

Sayang ...
Pada perjalanannya, memang Bunda lupa bahwa engkau masih dalam didikan Bunda ... Bunda masih sering sekali alfa ... Bunda harap, ini tidak menurun padamu, Sayang ... Bunda minta maaf telah mencontohkan yang tidak baik ... Semoga Allah memaafkan dan kamu bisa mengambil pelajaran ...

Dear, anak Bunda ...
Bunda sadar, Bunda harus lebih menjaga mata, hati, telinga, kaki, dan tangan Bunda ... Bunda harus menjaga kualitas nuthfah - nuthfah emas Bunda ... Bunda ingin kamu tumbuh menjadi anak idaman orang tua dan idaman para penghuni surga ... Bunda ingin kamu menjadi pribadi yang memiliki akhlak dan ilmu yang baik ...

Tetaplah menjadi kebanggaan Bunda, Nak ...
Kamu harus tahu, seberapa Bunda berusaha mendidikmu sejak ayahmu belum hadir. Sejak Bunda masih duduk di bangku sekolah ... Sejak saat itu Bunda sudah mengharap kamu menjadi anak yang baik ... itu saja ... Bunda harap kamu mengerti dan bisa mewujudkan harapan Bunda ...


Hingga saat ini, Bunda belum tahu siapa yang akan membuahi ovum Bunda dan akan menghadirkan kamu ... Tapi, Bunda akan memilihkan yang terbaik, Sayang ... Tentu yang mendukungmu menjadi orang yang berakhlak baik ...


Salam Sayang Bunda

Selasa, 3 Nov 2015
Muharram 1438 H